Hari ini, Makna tertunduk lesu. Raut wajahnya sendu, kalut
dengan seribu macam gagasan-gagasan dalam kepala yang ia sendiri tak tahu
bagaimana mereka muncul, pun tak tahu bagaimana cara mereka dijinakkan.
Ia memesan frappucino dingin dengan gula normal, menjauh dari kopi hitam americano yang selalu jadi pilihan setiap ia datang ke kafe itu.
Memesan kopi hitam itu, sama saja dengan memesan kenangan masa lalu.
Semua baik-baik saja, jika bukan sekarang, semua akan
baik-baik saja. Gumamnya dalam hati. Ia
lalu duduk di kursi sudut jendela yang selalu ia tempati. Tak seperti biasa, ia
tidak membawa buku untuk dibaca. Hal yang sering ia lakukan untuk membunuh
waktu.
Ia hanya duduk diam, menatap keluar jendela.
Ting tong. Bel pintu kafe berdering pertanda pelanggan baru
tiba. Makna membuyarkan lamunannya, menolehkan pandangan terhadap seorang
perempuan yang berdiri mematung di depan pintu masuk.
Makna tersenyum, melambaikan tangan.
“Lara.”
Lara membalas dengan balik dengan sneyuman.
“Hai.”
Perempuan itu kemudian berjalan pelan, dengan sedikit ragu, lalu
duduk berhadapan dengan Makna.
Ah, kenapa dia selalu secantik ini. Makna bergumam dalam hati.
Tidak seperti biasanya, dimana mereka bercakap dengan suara
keras yang kadang membuat pelanggan lain risih, hari ini, mukaddimah mereka
diisi dengan keheningan selang beberapa saat.
Makna mengepalkan tangan di bawah meja, sembari merapalkan
mantra yang sama di kepala ribuan kali.
Semua baik-baik saja, jika bukan sekarang, semua akan
baik-baik saja.
******
Rintik hujan di luar kafe perlahan memecah kerumunan dan
memaksa orang-orang mencari tempat berteduh. Seperti biasa, hujan turun
pertanda kafe ini menjadi sepi. Tak ada pelanggan lain, selain sepasang
laki-laki dan perempuan yang menjadi tokoh inti cerita ini.
Dua gelas minuman telah tersaji di meja mereka. Gelas milik Lara sudah habis sepertiga.
“Mbak, pesan satu
thai tea lagi ya.” Makna melambai ke barista kafe.
“Na, aku udah
fitting baju kemarin. Nggak usah, aku lagi menghindari gula.”
Laki-laki menoleh, memandang remeh, “Serius?”
Lara menggelengkan kepala, “Nggak deng, aku kan nggak pernah
nolak gratisan.”
Keduanya tertawa kecil, suasana canggung di awal tadi sudah
hampir menguap sepenuhnya. Satu melempar pertanyaan, satunya memberi jawaban,
begitu terus secara bergantian. Topiknya bermacam-macam, dari persoalan seorang
artis yang tidak bisa membuka buah salak, hingga isu Kim Yo Jong yang
berpotensi menjadi diktator wanita pertama di dunia.
“Jadi gini, kalau aku
leftist, apakah aku harus bersedih karena kebebasan berpendapat masih dikekang,
atau bersorak gembira karena seorang perempuan bisa memimpin negara yang budaya
patriarkinya masih kental?” Makna melempar pertanyaan.
“Jadi gini,
pertanyaanmu ini sifatnya satir atau murni pertanyaan?”
“Kok kamu nanya
balik, ini kan pertanyaan sederhana, tinggal milih a atau b.”
“Kan kamu pernah
bilang kalau nggak semua pertanyaan bisa dijawab dengan a atau b.”
“Kan nggak semua,
artinya ada yang bisa dijawab dengan a atau b dong.”
“Betul sih, tapi
pertanyaan ini termasuk salah satu dari ‘nggak semua’ itu.”
“Memang klasifikasi
dari ‘nggak semua’ dan non-‘nggak semua’ itu gimana? Kok kamu langsung tahu?”
“Ya aku langsung tahu
aja, naluri perempuan, nggak butuh penjelasan.”
Makna merasakan lidahnya tertahan untuk mengucapkan balasan,
bersamaan dengan segelas thai tea yang dibawa oleh seorang barista yang
berusaha menahan tawa.
“Congratulations,
madam. Aku kalah, terimalah minuman ini sebagai hadiah.”
Lara mengangguk takzim, menyambar gelas dan menyeruput
isinya hingga ia mendadak tersedak, sembari spontan memukul-mukul kecil
dadanya.
Makna menggumam kecil, “rasain.”
“Apa kamu bilang?”
“Nggak bilang apa-apa
kok.”
Setelah memulihkan diri dari sedakan tadi, Lara kembali
menyeruput tropi kemenangannya, kini dengan lebih berhati-hati. Makna hanya
diam saja, mengamati sosok yang ada di hadapannya dengan jantung yang berdetak
sedikit lebih cepat dari biasanya.
Kamu nggak pernah berubah ya, selalu seperti ini, seperti
kamu yang aku kenal.
Ia lalu menoleh sekilas ke luar jendela, hujan rintik tadi
telah berubah menjadi hujan deras, tanpa ada tanda reda dalam waktu dekat.
Ia ingin berlama-lama, duduk berdua saja seperti ini. Sebagian kecil dari hatinya bahkan menginginkan kemustahilan, ia ingin waktu di luar kafe ini berhenti. Ia ingin orang-orang di luar sana mematung, hari tak berganti malam, pasang tak berganti surut. Mungkin pengecualian terhadap hujan.
Ya, biarkan hujan di luar tetap turun, terus turun tanpa henti, sehingga jika
salah satu dari mereka berkata ‘kita pergi setelah hujan reda’, kata ‘pergi’
tidak akan pernah terjadi.
Sayangnya, sebagian besar dari hatinya tahu, hal-hal diluar
nalar seperti itu, di dunia yang berjalan dibawah asas aksi-reaksi, mustahil
untuk terjadi.
Makna kembali mengepalkan tangan di bawah meja, kembali merapalkan mantra yang sama.
Semua baik-baik saja, jika bukan sekarang, semua akan baik-baik saja.
“Boleh aku liat foto
dia?”
Lara masih menyereput minumannya.
Dua detik, tiga detik, empat detik.
Ia meletakkan gelas di atas meja.
“Apa tadi?” balasnya,
pertanyaan remeh yang sebenarnya tak perlu, hanya ingin mengonfirmasi.
Makna tersenyum, “Boleh aku liat foto dia?”
“Foto calon suamimu.”
******
“Aku ketemu dia pas
lagi pelatihan kerja.”
“Ah, pelatihan yang
pas aku lagi di luar itu ya.”
“Yap.”
Makna mengamati foto yang ada ditampilkan di layar gawai
selang beberapa saat. “Ganteng kok,
mirip Siwon Super Junior.”
“HAHH?”
“Canda.”
Hening sejenak.
Dua detik. tiga detik.
“Resepsinya sama
pestanya kapan?”
“Dua minggu lagi,
hari Kamis.”
hari sibuk.
“Di mana?”
“Di rumah.”
sederhana.
Ia sekali lagi memandang keluar jendela sejenak, “Jangan
bilang undangannya kamu sebar lewat WA, budgetnya 10 juta, terus yang kamu
undang nggak sampai 50 orang.”
Lara terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, “hehehe.”
“Ini aku tuntut di
pengadilan atas dasar pengambilan alih hak cipta dan konsep pernikahan sepihak
loh ya.” ujar Makna, sembari pura-pura menggerutu. Candaan yang dibalas dengan
diam oleh Lara.
Percakapan kali ini tak semulus dan sesigap sebelumnya, saat mereka membahas Kim Yo Jong dan Korea Utara. Satu dua kali balasan, diikuti dengan hening panjang. Biasanya, Makna akan mencari topik baru, membuat manuver dengan pernyataan lucu, atau meledek perempuan di depannya dengan sarkasme yang membuat telinga merah.
Tapi kali ini tidak begitu, ia ingin sedikit menjadi egois.
Ia telah melontarkan balasan, sepatutnya lawan bicara yang kembali berbicara.
Seperti bola ping-pong yang terpantul dari pemain kiri ke pemain kanan.
Lima detik, enam detik.
“Aku minta maaf ya.” Lara akhirnya mengaku kalah.
“Kita cuma beberapa bulan nggak ketemu langsung, tapi
situasi jadi runyam begini.” Ia melanjutkan.
Makna diam sejenak, memilah dan memilih kata-kata.
“Kamu nggak perlu minta maaf, kamu nggak berbuat salah kok.
Takdir kita aja yang udah kayak gini.”
Lara tidak langsung membalas, bukan karena memilih
“Terus kamu bagaimana?”
“Aku udah nyiapin racun tikus di tasku buat bentar pas
pulang.”
Lara memandang kesal.
“Canda, gimana ya? Intinya aku nggak bakal mati kok.”
“Aku serius.”
Makna menghela nafas panjang, “Kamu mau jawaban yang singkat
atau yang gamblang?”
“Singkat.”
“Aku bakal baik-baik saja, serius.”
“Kalau yang gamblang?”
Makna sontak menggelengkan kepala. Perempuan yang ada di
depannya ini memang penuh dengan kejutan.
Ia diam sejenak, mengambil ancang-ancang.
“Aku bakal baik-baik saja, tapi tidak semudah itu. Kenangan
kita terlalu banyak, aku butuh waktu.”
“Kamu bakal jadi gangguan paling menjengkelkan di awal-awal,
mengganggu pekerjaanku, tidurku, membuat mood bahagiaku tiba-tiba menjadi
sendu.”
“Tapi perlahan, aku bakal menata diri kok, aku bakal cari
kesibukan, melakukan hal-hal yang tidak ada kaitannya denganmu, membuat
definisi baru terhadap hal-hal bahagia yang tak mesti ada dirimu di dalamnya.”
“Perlahan aku bakal… ah aku kok bicara kayak orang di
film-film gitu yak, intinya seperti itu. Aku bakal baik-baik saja, tapi aku
butuh waktu.”
Sesederhana itu ya.
“Berapa lama?” Lara bertanya dengan lirih.
“Ya, tergantung, kalau aku tiba-tiba dapat perempuan yang
lebih cantik dari kamu besok, kira-kira seminggu cukuplah.”
Lara tertawa ketir. Ia saat ini merasa sebagai orang paling jahat
di dunia.
“Aku minta maaf.”
Makna tersenyum, sekilas ia ingin membantah permintaan maaf
dari perempuan yang ia sayangi sekian lama itu. Bahwa dia tak salah, dan hidup
memang selalu penuh dengan kejutan yang, kadang, menjengkelkan di mata manusia.
Tapi ia tahu, ini bukanlah saat untuk saling melempar ‘kebenaran’.
Semua baik-baik saja, jika bukan sekarang, semua akan
baik-baik saja.
“Aku juga minta maaf.”
******
Hujan perlahan menjinak, namun malam yang semakin larut
membuat kafe itu sepi dan belum didatangi oleh pengunjung lain.
Lara telah pergi, beberapa menit sebelumnya setelah diantar
oleh Makna ke taksi yang ia pesan sebelumnya. Setelah melempar ucapan
selamat tinggal satu sama lain. Ia kembali ke kursinya, menikmati lukisan percikan air di
permukaan jendela.
Ia menggumam kecil, kepalanya merintih untuk berimajinasi.
Ia berangan, bahwa hal seperti ini akan lebih mudah dilalui seandainya dunia
berjalan seperti cerita pada film-film romantis. Lelaki yang patah hati
memutuskan ke luar negeri, di luar sana berpetualang sembari berdamai dengan
diri sendiri, lalu kemudian menemukan cinta sejati. Boom. Tamat. Happy Ending.
“Mas, permisi. Mohon
maaf kafenya sudah mau tutup.” seorang pegawai kafe tiba-tiba membuyarkan
lamunannya.
“Oh ya, maaf mbak,
bill-nya ya.”
Setelah pamit terhadap pegawai kafe. Ia bergegas keluar dan menghampiri hujan yang telah berubah menjadi rintik kecil. Ia tertawa sendiri, mengingat pikiran-pikiran naifnya beberapa menit sebelumnya. Sesekali ia mengatur nafasnya, menahan kontraksi di pipinya sembari meniti langkah pulang.
Komentar
Posting Komentar